Hari Tanpa Tembakau Sedunia: 5 Catatan WHO Berkaitan dengan Rokok di Indonesia

Home / Gaya Hidup / Hari Tanpa Tembakau Sedunia: 5 Catatan WHO Berkaitan dengan Rokok di Indonesia
Hari Tanpa Tembakau Sedunia: 5 Catatan WHO Berkaitan dengan Rokok di Indonesia Ilustrasi hari tanpa tembakau sedunia. (FOTO: suara.com)

TIMESLAMONGAN, JAKARTA – Setiap tanggal 31 Mei pada tiap tahunnya  diperingati sebagai hari tanpa tembakau sedunia. Tujuannya adalah mengingatkan kita betapa bahayanya dampak kesehatan yang ditimbulkan dari rokok. Pada peringatan hari tanpa tembakau sedunia kali ini, organisasi kesehatan dunia (WHO) dalam situs resminya menyerukan 5 hal terkait rokok di Indonesia. Apa saja? 

1. Tingkat Kematian Akibat Rokok Masih Tinggi

WHO membeberkan fakta yang cukup mengerikan terkait angka kematian yang diakibatkan oleh merokok maupun yang berkaitan dengan tembakau. Dalam setiap tahunnya, tercatat ada 225.700 orang di Indonesia yang meninggal karena merokok.

2. Tren Naik Perokok di Usia Remaja

Prevalensi pada orang dewasa masih belum menunjukkan penurunan selama periode 5 tahun ini, sementara prevalensi merokok pada remaja usia 10-19 tahun meningkat dari 7,2% di tahun 2013 menjadi 9,1% pada 2018 -- peningkatan sebesar kira-kira 20%.

Data terbaru dari Global Youth Tobacco Survey (GYTS) tahun 2019 yang dirilis pada hari ini menunjukkan bahwa 40,6% pelajar di Indonesia (usia 13-15 tahun), 2 dari 3 anak laki-laki, dan hampir 1 dari 5 anak perempuan sudah pernah menggunakan produk tembakau: 19,2% pelajar saat ini merokok dan di antara jumlah tersebut, 60,6% bahkan tidak dicegah ketika membeli rokok karena usia mereka, dan dua pertiga dari mereka dapat membeli rokok secara eceran.

3. Pengaruh Kuat Iklan Rokok

Data GYTS juga menunjukkan hampir 7 dari 10 pelajar melihat iklan atau promosi rokok di televisi atau tempat penjualan dalam 30 hari terakhir, dan sepertiga pelajar merasa pernah melihat iklan di internet atau media sosial.

Angka-angka tersebut tentunya sangat mengkhawatirkan karena menunjukkan bahwa generasi muda terus terekspos penggunaan tembakau dan iklan-iklan rokok dengan pesan tersamar yang dirancang dengan baik, untuk menarik generasi muda agar kecanduan tembakau dan nikotin.

4. Perokok Rawan Gejala Covid-19
Penelitian menunjukkan bahwa SARS-CoV-2, jenis coronavirus yang menyebabkan COVID-19, umumnya memengaruhi sistem pernapasan, sehingga membuat para perokok lebih mungkin mengalami gejala yang lebih parah, dibandingkan dengan mereka yang tidak merokok. Penyakit penyerta, atau kondisi kesehatan yang telah dialami sebelumnya seperti PTM yang disebut di atas, juga ditemukan dapat meningkatkan risiko menderita COVID-19 yang parah jika sampai terjangkit.

5. Indonesia Belum Terapkan WHO FCTC

WHO mendorong semua negara untuk mengimplementasikan Konvensi Kerangka Kerja Pengendalian Tembakau (WHO FCTC) yang mencakup pembuatan, pelaksanaan, dan penegakan kebijakan-kebijakan pengendalian tembakau yang efektif untuk mengurangi permintaan masyarakat terhadap tembakau. Situasi saat ini membuat Konvensi berskala global ini semakin relevan dibandingkan sebelumnya, karena dibutuhkannya koordinasi global yang lebih kuat dan solidaritas yang kokoh di antara negara-negara untuk menghadapi berbagai tantangan kesehatan masyarakat. Tingkat merokok rata-rata di Indonesia terus menjadi salah satu yang tertinggi di dunia. Indonesia adalah satu-satunya negara di kawasan Asia Tenggara yang belum meratifikasi WHO FCTC.

Selamat hari tanpa tembaku sedunia !!!. (*)

Baca Berita Peristiwa dan Politik terbaru di Indonesia dan luar negeri lainnya hanya di TIMES Indonesia.

Berita Lainnya

Komentar

Top
satriamedia.com